Langsung ke konten utama

Bukan Milik Kita

 Om Swastyastu

"ASTEYA"

        Apakah itu ASTEYA? apakah ASTEYA bisa menjadikan manusia yang suci? apa bisa menunjukan jalan kebenaran pada manusia? apa juga menciptakan kedamaian?

        Jika seseorang menjalani ASTEYA dengan teguh, sidhirastu hal tersebut pasti dapat terciptakan.

        Setiap manusia dilahirkan tidak sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Sang Hyang Widhi (Tuhan atau Sang Pencipta), namun manusia adalah Ciptaan Sang Hyang Widhi yang paling sempurna dibandingkan dengan Ciptaan yang lainnya.

       Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikangsubhasubhakarma, kuneng panentasakena ring subhakarma juga ikangasubhakarmaphalaning dadi wwang. (Sarascamuscaya,2)

Terjemahan:

    Manusia adalah satu-satunya mahluk yang dapat melakukan kebajikan pun kejahatan.Terlahir menjadi manusia bertujuan untuk melebur perbuatan-perbuatan jahat ke dalamperbuatan-perbuatan bajik, hingga tidak ada lagi perbuatan-perbuatan jahat yang masihtersisa dalam diri, inilah hakekat menjadi manusia. Hanya dengan menjadi manusiakejahatan itu dapat dilebur dalam kebajikan.


ASTEYA yakni tidak mencuri, tidak mengambil milik orang, tak menguasai punya tetangga, pantang memiliki kepunyaan orang lain


Asteya untuk jujur, langgar Asteya ya hancur

Asteya perilaku yang benar, perilaku benar yakni adosa, jika mencuri adalah dosah, dosa adalah perilaku keliru

Tak mencuri milik orang, itulah Asteya, suka mencuri dapat sangsi. Bila ketahuan diadili hakim. Pencuri siap untuk didenda, sesuai aturan yang berlaku 

Paramarthanya, pengpengen ta pwa katemwaniking si dadi wwang, durlabha wiya ta, saksat handaning mara ring swarga ika, sanimittaning tan tiba muwah ta pwa damelakena. (Sarascamuscaya,6)

Terjemahan:

Pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk datang menuju sorga. Segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi itulah hendaknya dilakukan.

Om Santih Santih Santih Om.

Komentar