Langsung ke konten utama

Siwa Ratri

Siwaratri di-Era Pandemi Covid 19

    Siwaratri artinya malam Siwa. Secara etimologi Siwaratri terdiri dari dua kata yaitu Siwa dan Ratri. Siwa dalam bahasa Sansekerta berarti baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan dan juga Siwa dapat diartikan sebagai sebuah gelar atau nama kehormatan untuk salah satu manifestasi Tuhan yang diberi nama atau gelar kehormatan Dewa Siwa yaitu Dewa Pelebur, dalam hal ini beliau sebagai pemralina untuk mencapai kesucian atau kesadaran diri yang memberikan harapan untuk kebahagian.

    Ratri artinya malam, yang dapat diartikan juga sebagai kegelapan. Jadi Siwaratri dapat diartikan sebagai malam pemralina atau pelebur kegelapan dalam diri dan hati untuk menuju jalan yang lebih terang.

    Ketika Hari Suci Siwaratri telah tiba tidak sedikit yang beranggapan bahwa Siwaratri bertujuan untuk melebur dosa. Benarkah demikian? Lantas bagaimana dengan adanya Hukum Karma Phala? Jika dosa bisa dilebur hanya dalam satu malam (Siwaratri ). 

    Sesungguhnya Siwaratri merupakan malam perenungan dosa (bukan peleburan dosa), dengan tujuan tercapainya kesadaran diri. ”Secara tatwa, sesungguhnya Siwaratri itu simbolisasi dan aktualisasi diri dalam melakukan pendakian spiritual guna tercapainya ‘penyatuan’ Siwa, yaitu bersatunya atman dengan paramaatman atau Tuhan penguasa jagat raya itu sendiri.

    Sebagai malam perenungan, kita mestinya melakukan evaluasi atau introspeksi diri atas perbuatan-perbuatan selama ini. Pada malam pemujaan Siwa ini kita memohon diberi tuntunan agar dapat keluar dari perbuatan dosa.

Implementasi Siwaratri dapat dilakukan seperti Bratha Siwaratri berikut ini:

  1. Monabrata atau berdiam diri dan tak berbicara. 
  2. Jagra atau tidak tidur selama semalaman. 
  3. Upawasa atau tidak makan dan tidak minum. 
Tingkatan pelaksanaan pada Perenungan malam Siwa
  1. Tingkat Utama, melaksanakan : Monabrata, Jagra, dan Upawasa
  2. Tingkat Madya, melaksanakan : Jagra, dan Upawasa
  3. Tingkat Nista, melaksanakan : Jagra

Secara rinci Brata Siwaratri yang dilaksanakan pada hari Suci Siwaratri adalah sebagai berikut:

    Agama Hindu selalu ada tingkatan Nista, Madya dan Utama yang bisa dipilih sesuai kemampuan, begitu pula  dalam melaksanakan Brata Siwaratri.

    Ketika menjalankan kegiatan Brata Siwaratri diakhiri dengan melakukan persembahyangan dan memohon kepada Sang Hyang Siwa supaya diberikan Waranugraha dan ampunan, dan juga dikembalikan menjadi manusia yang suci dan paripurna serta memohon ditunjukan jalan terang agar terhindar dari perbuatan dosa.

    Maka dapat disimpulkan bawah Hari Suci Siwaratri bukanlah hari penebusan dosa melainkan perenungan dosa yang selama ini telah kita perbuat. Hukum Karmaphala tetap akan berlaku, akan tetapi diyakini dengan menjalankan Brata Siwaratri niscaya kedepannya kita akan mampu mengendalikan diri sehingga dapat terhidar dari perbuatan dosa.

    Hari Suci Siwaratri tahun ini sangatlah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk pelaksanaannya pun juga berbeda akan tetapi maknanya tak lain adalah sama. Pertama untuk Monabrata, dimana yang biasanya hanya berdiam diri tanpa kata, pada tahun 2021 kita sebagai manusia (Hindu khususnya) harus taat dan patuh terhadap protokol kesehatan yaitu dengan menggenakan masker. Artinya bahwa pada Brata Siwaratri di tahun 2021 ini selalin mengurangi berbicara secara batin juga mengurangi berbicara secara lahir yaitu dengan menggunakan masker.  

    Upawaswa atau berpuasa merupakan salah satu pengendalian diri dengan cara tidak makan dan tidak minum, namun pada Brata Siwaratri di tahun 2021 ini tidak hanya tidak makan dan tidak minum saja, melainkan juga mengendalikan diri supaya tidak berkerumunan (sama halnya dengan kisah Lubdaka yang menyendiri di hutan), jaga jarak dengan sesama, dan juga memilah antara kebaikan maupun keburukan yang dapat menguntungkan, merugikan baik diri sendiri maupun seluruh manusia.

    Jagra yang berarti tidak tidur, jika pada Brata Siwaratri tahun sebelumnya umat Hindu hanya menjalankan tidak tidur saja maka di era pandemi ini sangatlah berbeda. Selain menjalankan Jagra atau tidak tidur, namun juga menjalankan Jagra untuk tidak menyepelekan virus yang sangat merugikan manusia di seluruh dunia. Seluruh manusia dan umat Hindu khususnya harus bisa menjaga daya imunitas diri masing-masing.

    Semoga Brata Siwaratri yang telah di jalankan seluruh umat Hindu di dunia ini dapat memberikan kebaikan kepada alam itu sendiri dan Dewa Siwa memberikan Waranugrahanya kepada Bhuana Agung dan Bhuana Alit berupa Sanjiwani.

berikut adalah Mantra Siwa Stawa yang merupakan mantra untuk Persembahyangan Siwaratri

by AsSet12_01_2021

Komentar