Langsung ke konten utama

Daksina

2.1     Pengertian Daksina

Dari beberapa literatur, sangat sulit dicari pengertian Daksina secara etimologi. Tetapi di dalam kitab Ayur Veda XX.25 disebutkan bahwa untuk mencapai "Daksina" harus diawali dengan perjuangan diri yang penuh disiplin. Perjuangan yang penuh disiplin itu disebut dengan Brata. Brata artinya pengendalian diri dimana suatu disiplin hidup yang timbul dari niat diri sendiri untuk melakukan sesuatu disiplin hidup. Beranjak dari sana, kata Daksina  bisa diartikan perilaku atau kehidupan terhormat. Jika dipahami secara intensif memang akan timbul sebuah ketimpangan karena dalam realitanya Daksina adalah sebuah sarana upakara (benda) bukan berupa tingkah laku. Daksina biasanya diberikan kepada orang yang terhormat, yang mengabdikan dirinya dalam prilaku suci (Pedanda atau Pemangku). Dari sini bisa diberikan jalan tengah dan benang merah, bahwasanya ada keterkaitan antara Daksina dalam bentuk sarana upakara dan perilaku terhormat itu.

Daksina dapat diartikan sebagai kekuatan Brahman yang memiliki sifat  Nirguna Brahman, (dilihat dari kata daksina adalah selatan). selatan dalam pengideran disimbulkan sebagai agni dengan Prabhawanya sebagai kekuatan Brahma, memiliki fungsi sebagai pencipta sehingga dapat sebutan sebagai “Brahman”, kemudian Brahman bermanifestasi menjadi 13 (tiga belas) kekuatan sebagai pesaksi umat Hindu dalam beryadnya . 

2.2     Fugsi Daksina

Selain fungsi di atas, Daksina memiliki kegunaan lain dalam  upacara yadnya diantaranya yaitu:

2.2.1   Daksina sebagai simbol Hyang Tunggal/ Hyang Guru:

Membuat sarana perlengkapan Daksina yang begitu lengkapnya sehingga dianggap cukup untuk mewakili isi seluruh alam semesta yang ada. Maka dengan demikian Daksina diartikan sebagai satu kesatuan dan sekaligus sebagai simbol Hyang Tunggal atau Hyang Guru sebagai manifestasi dari Deva Siva sebagai penguasa alam semesta ini.

2.2.2   Daksina sebagai sarana persembahan dalam upacara Yajna:

Daksina adalah sarana perlengkapan yang paling penting dari beberapa jenis upacara Yajna. Sebesar dan semegah apapun pelaksanaan upacara Dewa Yajna, tanpa menggunakan sarana Daksina maka upacara itu belum dianggap sempurna. Daksina dianggap sebagai tempat berstananya Sang Hyang Widhi sehingga dijadikan media untuk mendekatkan diri.

2.2.3   Daksina sebagai ungkapan rasa terima kasih:

Daksina dipersembahkan oleh umat Hindu untuk menyampaikan rasa angayubagia kepada Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya. Fungsi lain dari Daksina ini adalah sebagai sarana untuk media menyempaikan terima kasih kepada para sulinggih atau para pinandita yang ditugaskan untuk melaksanakan/ /nganteb/ memuput upacara, juga sebagai bukti rasa bhakti para umatnya disatu sisi merupakan bentuk pelayanan para pandita dan pinandita kepada umatnya.

2.2.4 Daksina untuk memohon keselamatan

Sebagai manusia yang jauh dari sempurna, maka manusia tidak pernah luput dari kesalahan serta segala kekurangannya, kesalahan dan lupa karena keterbatasan pikiran maka perlu melaksanakan permohonan keselamatan. Khususnya bagi para tukang banten (Sarati) kehadiran banten Daksina sebagai Sthana Sang Hyang Widhi mutlak sangat diperlukan. Sang Hyang Widhi sebagai manifestasiNya Sang Hyang Devi Tapeni/ Bhatari Tapeni (Devanya Serati Banten) untuk memohon bimbigan keselamatan, dalam melaksanakan pembuatan banten untuk upacara Deva Yajna tidak sampai melakukan kesalahan akibat keterbatasan pikiran seperti, kelupaan. Kebingungan dan lain sebagainya. 

2.2.5   Daksina sebagai Upasaksi (Lambang Hyang Guru):

Pengertian upasaksi terdiri dari dua suku kata, yaitu upa dan saksi, upa dapat diartikan sebagai perantara dan saksi dapat berarti mengetahui. Jadi upasaksi dapat mengandung pengertian sebagai sarana untuk diketahui atau mempermaklumkan, dalam hal ini kepada Sang Hyang Widhi dengan manifestasiNya.

2.2.6   Daksina sebagai banten pelengkap.

Mengingat Daksina sebagai pelengkap banten-banten lainnya salah satunya seperti banten pejati. Hal ini disebabkan karena upacara atau upakara yang digunakan dalam suatu acara merupakan satu kumpulan dari beberapa jenis banten. Kedudukan Daksina selalu menyertai banten-banten yang lain karena memang unsur yang terdapat dalam Daksina sangatlah lengkap, selain itu Daksina merupakan kekuatan atau saktinya suatu Yajna. Dengan kata lain suatu upakara Yajna akan menjadi sempurna apabila ada Daksinanya.

2.2.7   Daksina sebagai sarana penebusan :

Daksina juga berfungsi sebagai penebusan atas kekurangan dalam upakara yang dilaksanakan, terletak pada sesari atau uang. Selain itu uang sesari juga mengandung makna simbol ketulusan hati atau sarining manah. 

2.3      Berikut merupakan komponen-komponen pembentuk dari Daksina:

2.3.1  Alas Bedogan atau Bedogan atau Serobong Bedogan

Bedogan adalah sarana upacara yang dibuat dari daun kelapa sehingga menyerupai suatu wadah seperti bakul yang dalam Bahasa Jawa disebut tompo dan Bahasa Bali di sebut wakul Daksina. Bedogan merupakan lambang dari Sang Hyang Ibu Pertiwi, yang merupakan simbol bumi (Makrokosmos).

2.3.2       Tapak Dara.

Tapak Dara terbuat dari dua potongan janur kemudian dijahit membentuk tanda tambah. Tapak Dara merupakan lambang dari Sang Hyang Rwa Bhineda. Selain itu Tapak Dara adalah lambang Swastika yang berarti keseimbangan dan keadaan yang baik 

2.3.3        Beras 

Beras yang dipergunakan hanyalah segenggam. Beras merupakan lambang dari Sang Hyang Bayu dan segenggam merupakan simbol dari kekuatan. 

2.3.4        Porosan

Porosan merupakan inti dari sebuah banten. Porosan terbuat dar sirih yang didalamnya terdapat pinang dan kapur. Porosan adalah simbol Tri Murti, sirih merupakan simbol dari Dewa Wisnu, Pinang merupakan simbol Dewa Brahma, dan Kapur merupakan simbol Dewa Siwa. Pada umumnya Banten Daksina menggunakan porosan silih asih yang merupakan lambang dari Sang Hyang Semara Ratih

2.3.5        Pangi 

Buah Pangi atau Kluwek dialasi dengan kojongPangi merupakan simbol dari Sang Hyang Baruna atau Sang Hyang Boma dan juga merupakan simbol sarwa pala/buah.

2.3.6        Gantusan

Gegantusan merupakan perpaduan isi daratan dan lautan, yang terdiri dari biji-bijian (5 macam) yang mempunyai warna (hitam, putih, merah, kuning dan campuran) sebagai cerminan adanya jiwatman (roh), bumbu-bumbuan, garam, dan ikan teri yang dibungkus menggunakan kelaras (daun pisang yang sudah kering) menjadi dua bagian. Semuanya itu merupakan Sad RasaGegantusan merupakan simbol dari Sang Hyang Indra

2.3.7 Peselan

Pepeselan terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu yang merupakan lambang dari Panca Dewata yang terdiri dari, daun durian lambang Dewa Iswara (warna putih), daun manggis lambang Dewa Brahma (warna merah), daun langsat/langsep lambang Dewa Mahadewa (warna kuning), daun mangga lambang Dewa Wisnu (warna hitam), dan daun nangka/salak lambang Dewa Siwa (manca warna/brumbun). Secara, umum pepeselan merupakan lambang dari Sang Hyang Sangkara sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan.

2.3.8    Kelapa  

Kelapa yang digunakan adalah kelapa yang sudah dikupas kulit dan serabutnya dan disisakan ujungnya. Kelapa merupakan simbol dari Sang Hyang Surya atau Matahari yang merupakan cerminan dari Sang Hyang Sadha Siwa. 

2.3.9        Telur 

Telur bebek dibungkus dengan janur/daun kelapa atau dialasi dengan kojong. Telur bebek merupakan simbol dari Sang Hyang Candra atau bulan. Telur yang digunakan dalam Daksina diusahakan menggunakan telur itik karena itik mampu memilih makanan yang bisa atau yang tidak bisa dimakan, itik juga sangat rukun dengan sesamanya (bersifat satwika) dan dapat menyesuaikan hidupnya baik di darat, air dan juga udara.

2.3.10        Tingkih 

Tingkih atau kemiri dialasi dengan kojongTingkih merupakan simbol dari Sang Hyang Tranggana atau bintang yang merupakan cerminan dari Sang Hyang Parama Siwa.

2.3.11    Benang tatebus/lawe warna putih

Benang tebus putih dililitkan di ujung kelapa yang merupakan simbol dari Sang Hyang Aji Akasa atau awan.

2.3.12    Uang kepeng bolong 

Uang kepeng satu buah merupakan simbol dari Windu. Selain itu uang kepeng juga simbol dari Sunya, kosong atau embang dengan prabhawanya Sang Sunya Mertha.

2.3.13    Canang Sari

Canang Sari atau Canang Genten merupakan simbol dari Asta Asiwarya dan Panca Dewata yang menempati lima penjuru mata angin. Canang Sari berisi porosan dan di beri sampyan payasan yang sering juga disebut dengan pasucian/pangresikan. merupakan simbul asta aiswarya yaitu sang hyang dewata nawa sanga.

2.4 Cara Merangkai Daksina

Perlengkapan Daksina :

1. Serobong daksina

2. Tetampak

3. Beras

4. Porosan

5. Pangi

6. Gantusan

7. Peselan

8. Kelapa

9. Tingkih

10. Telor bebek mentah

11. Wang kepeng

12. Benang putih

13. Canang sari


Komentar