Perhatikan gambar berikut dan kemukakan didepan kelas pandangan kalian mengenai gambar di bawah ini jika dikaitkan dengan Darśana!
1. Nyāya Darśana
Nyāya Darśana adalah aliran filsafat realitas, maksudnya bahwa keberadaan dunia berdiri sendiri dan terlepas dari pikiran. Pikiran merupakan perantara dari yang diketahui, baik yang terbatas, ataupun tidak terbatas. Dalam pandangan aliran Nyāya Darśana, tujuan tertinggi untuk mencapai kelepasan melalui pengetahuan yang benar (Adiputra, 2008:6-7). Aliran Nyāya Darśana memiliki 16 padārtha atau pokok ajaran, yakni Pramana, Prameya, Samsaya, Prayojana, Nirnaya, Vada, Jalpa, Vitanda, Sristanta, Siddhanta, Avajava, Tarka, Hetvabhasa, Chala, Jati, Nigrahasthan.
2. Vaiśeṣika Darśana
Vaiśeṣika Darśana mempunyai pandangan tentang terlepasnya jiwa individu dari awidya atau kebodohan melalui berbagai kategori atau padārtha untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Vaiśeṣika menerima dua sumber pengetahuan dari Nyāya Darśana, yakni pengamatan (praktyasa) dan kesimpulan (anumana). Vaiśeṣika Darśana mengakui tujuh padārtha. Enam padārtha merupakan karya Ṛṣi Kanada. Sedangkan satu kategori lainnya merupakan karya pemikir berikutnya. Adapun tujuh kategori (padārtha) tersebut adalah sebagai berikut.
a. Substansi (dravya), maksudnya bahwa suatu benda bereksistensi jika mempunyai kualitas atau tindakan. Menurut aliran Vaiśeṣika Darśana terdapat sembilan substansi, yaitu tanah (pṛthivī), air (āpah), api (tejah), udara (vāyu), ether (ākāśa), waktu (kāla), ruang, diri/roh (jīva), dan pikiran (manas) (Sudirga, 2017:99). Substansi tersebut bersifat nyata dan kekal. Untuk substansi udara, waktu, dan akasalah bersifat tidak terbatas. Menurut aliran Vaiśeṣika Darśana sembilan substansi tersebut menjadi pembentuk jagat raya dan isinya. Substansi tersebut juga menjadi menjadi hukum terhadap semua makhluk, baik bersifat fisik maupun rohaniah.
b. Kualitas (guṇa) merupakan sesuatu yang berwujud dari suatu substansi. Terdapat 24 kualitas, yakni warna (rupa), perasaan (rasa), bau (gandha), sentuhan (sparsa), suara (sabda), hitungan (sankhya), jarak (parimana), penerangan (prthakwa), persatuan (samyoga), tidak terbagi (wibhaga), tipis atau sedikit (paratwa), dekat (aparatwa), pengetahuan (budhi), kesenangan (sukha), kesedihan (dukha), kenginan (iccha), keseganan (dwesa), usaha (prayatna), keberatan (gurutwa), keadaan cair (drawatwa), dalam (sneha), kecendrungan (samskara), kebajikan (dharma), dan tanpa kebajikan (adharma) (Adiputra, 2008:44).
c. Aktivitas (karma) adalah perilaku, baik melalui pikiran, perkataan, ataupun perbuatan. Ajaran Vaiśeṣika Darśana menjelaskan lima macam gerakan, yakni (1) utksepana adalah gerakan melempar ke atas, (2) awaksepana adalah gerakan yang melempar ke bawah, (3) akuncana adalah gerakan yang menimbulkan goncangan, (4) prasarana adalah gerakan yang menimbulkan perluasan, dan (5) gemana adalah bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Semua jenis perbuatan tidak dapat dipahami, dilihat, dan dirasakan terutama gerakan yang dilakukan dalam pikiran (Adiputra, 2008:46)
d. Sifat umum (sāmānya) ialah kekal (nitya) dan nyata. Akan tetapi terdapat saling keterkaitan antara individu-individu yang ada. Terdapat tiga jenis sifat umum atau samanya, yaitu para adalah sifat umum yang lebih tinggi, apara adalah sifat umum yang lebih rendah dan para-para adalah sifat yang menengah. e. Keistimewaan (viśeṣa) adalah kategori yang keadaannya berbeda antara satu dengan yang lain. Melalui viśeṣa kita dapat mengetahui keunikan masing-masing. Dengan melihat keistimewaannya, maka kita dapat membedakan jenis dan sifat dari setiap benda.
f. Pelekatan (samavāya) ialah hubungan yang kekal antara masing-masing bagian dari suatu benda. Hubungan ini disebabkan karena adanya gerak, kualitas, dan sifat umum dari benda itu sendiri.
g. Ketidakadaan (abhāva) itu bukanlah suatu penyangkalan atas adanya sesuatu. Terdapat dua jenis abhāva, yakni samsargabhawa adalah ketiadakadaan suatu substansi di suatu tempat dan anyonyabhawa adalah tidak adanya hubungan antara benda yang satu dengan yang lain.
3. Sāṁkhya Darśana
Sāṁkhya berarti pengetahuan metafisika murni tentang jiwa. Sāṁkhya mengakui adanya dua bentuk substansi utama, yakni roh dan kebendaan (purusa dan prakerti). Pokok-pokok ajaran Sāṁkhya, antara lain sebagai berikut.
a. Teori sebab dan akibat atau Satkarya vada.
Teori ini menerangkan tentang hubungan antara akibat (efek) dengan sebab materi. Teori Sāṁkhya tentang Satkarya vada didasarkan pada hal-hal berikut.
1) Apabila akibat itu benar-benar tidak ada di dalam sebab material, maka tidak ada upaya sebesar apapun dari pelaku yang mengadakannya.
2) Terdapat hubungan tanpa variasi antara sebab material dan akibatnya. Suatu sebab material hanya dapat menghasilkan akibat yang berkaitan sebab-akibat.
3) Kita hanya melihat beberapa akibat yang dihasilkan dari sebab-sebab tertentu.
4) Kenyataan bahwa sebab yang luar biasa dapat menghasilkan akibat yang diinginkan, menunjukkan bahwa akibat harus secara potensial ada dalam sebab.
5) Seandainya akibat itu benar tidak eksis di dalam sebab, maka kita harus mengatakan bahwa jika diadakan, maka yang tidak eksis menjadi eksis.
6) Bahwa yang kita lihat adalah akibat tidak berbeda, tetapi secara esensial identik dengan sebab material.
b. Prakerti dan guna
Prakerti sebagai salah satu penyebab paling halus dari alam semesta melalui kesimpulan sebagai berikut.
1) Semua objek-objek di dunia, dimulai dari akal sampai pada tanah bersifat sangat terbatas dan saling bergantung satu dengan yang lainnya.
2) Obyek-obyek di dunia memiliki beberapa ciri sama, maka obyek-obyek tersebut pun mempunyai sebab yang sama.
3) Semua akibat sebuah aktivitas memiliki sebab yang mengandung potensi.
4) Suatu akibat yang timbul dari penyebab akan kembali lebur pada waktu pralaya.
c. Purusa
Substansi utama kedua dari aliran Sāṁkhya ialah keberadaan sang jiwa harus diterima oleh semuanya. Menurut Sāṁkhya, jiwa itu nyata namun tidak dapat dibuktikan dengan cara apapun. Jiwa tidak sama dengan raga ataupun indrya, manas dan akal (buddhi). Jiwa merupakan roh yang menjadi subjek ilmu pengetahuan, bukan objek pengetahuan. Menurut filosofi Samkhya, untuk memperoleh pengetahuan yang tepat dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu: (1) Pratyaksa pramāṇa (pengamatan langsung); (2) Anumana pramāṇa (penyimpulan), (3) Apta Vakya (penegasan yang pantas), sesuai ajaran Weda atau kesaksian seorang ahli (Putra, 2020:95). Keberadaan jiwa sebagai subjek abstrak dibuktikan melalui beberapa argument berikut.
1) Objek-objek dunia seperti sepeda, motor, serta yang lainnya merupakan alat untuk mencapai tujuan manusia.
2) Objek material termasuk akal dan manah, patut dikendalikan oleh prinsip yang cerdas serta diarahkan supaya dapat mencapai tujuan. Jadi jiwa berfungsi mengatur aktivitas prakerti serta hasil-hasilnya.
3) Seseorang hendaknya berusaha untuk mencapai kelepasan akhir dengan dengan tulus sehingga terbebas dari kesengsaraan.
Aliran Sāṁkhya mengakui adanya keragaman jiwa yang satu dengan jiwa yang lain. Hal ini berdasarkan pertimbangan berikut.
1) Terdapat perbedaan yang jelas antara kematian dan kelahiran, serta gerak dan kemampuan sensor yang berbeda pada setiap individu.
2) Seandainya jiwa hanya satu bagi semua makhluk, maka semua orang melakukan kegiatan yang sama.
3) Wanita dan pria memiliki perbedaan dengan para dewa dan makhluk lain, sebab jiwa itu majemuk.
Sāṁkhya Darśana menjelaskan penciptaan alam semesta seperti tentang proses penciptaan terbentuk dari berbagai unsur dari tahap yang paling halus sampai tahap yang paling nyata. Sāṁkhya Darśana pokok ajarannya tentang purusa dan prakerti, evolusi penciptaan tidak terbentuk hanya dari unsur purusa, sebab unsur purasa bersifat pasif tetapi terjadi pertemuan antara purusa dan prakerti, berikut konsep penciptaan menurut Sāṁkhya Darśana.
Komentar
Posting Komentar